Saturday, March 29, 2008

Keluhan Nelayan Okura

"Bukan kami tidak tahu berterima kasih karena telah dibantu, tetapi yang bapak berikan itu tidak dapat kami gunakan": demikianlah keluhan nelayan di kelurahan Tebing Tinggi Okura.
Saat menerima bantuan berupa alat penangkapan ikan seperti jaring belat dan gill-net.
Sebenarnya pada saat mendapat kabar dan sekaligus didata untuk diberi bantuan alat tang kap ikan hati mereka serasa berbunga-bunga. Maklum sajalah selama ini mereka merasa sangat sulit untuk dapat mengganti alat tangkap yang telah usang dengan yang masih baru. Apalagi sela ma ini kehidupan mereka sangat bergantung pada kemurahan alam sungai Siak tempat mereka mendapatkan nafkah kehidupan sehari-hari. Juga kemurahan limbah untuk tidak datang mence mari ladang kehidupan tempat mereka menopang hidup.
Bayangkan saja selama sebulan di sungai Ukai yang merupakan anak sungai Siak lebih dari 4 kali mengalami pencemaran. Yang hebatnya limbah itu selalu datangnya di malam hari, seakan akan merasa enggan untuk lewat di sungai di siang hari. Akibatnya ikan-ikan yang sudah terke na tajur, terjaring di jaring (gill-net) dan yang sengaja dikurung dalam sangkar untuk dijual pada hari pasar mengalami kematian dan membusuk karena terkena limbah pabrik.
Kalau sudah demikian jadinya air sungai Ukai selama lebih dari 3 hari tidak dapat dimanfaat kan penduduk untuk keperluan mandi dan mencuci. Sungguh malang nian nasibmu nelayan.
Mau beralih profesi tidak punya keahlian, mau jadi buruh tidak diterima karena umur sudah di atas 50 an, mau nyadap pohon karet peninggalan jaman penjajahan Jepang sudah tidak mungkin karena lahannya sudah dikuasai pengusaha berduit dan pohon karet sudah ditebang dan diganti dengan bibit tanaman kelapa sawit.
Sebagian dari nelayan mendapat bantuan untuk membangun rumah. Agar rumah gubuknya berubah menjadi sebuah rumah yang layak huni dan menjadi rumah sehat. Tetapi yang terjadi kini rumah tetap berlantai tanah, tidak berjendela dan berpintu didalamnya, tidak berplafon dan tidak memiliki dapur serta mck.
Saat menerima bantuan jaring belat yang diterima adalah jaring panjang 50 m dan lebar 70 cm. Manalah mungkin jaring belat itu dapat digunakan dan dioperasikan di tepian sungai Siak dan di suak-suak, karena tinggi air sungai pada waktu pasang mencapai 2 meter. Maka sia-sialah bantuan dengan alasan untuk mensejahterakan kehidupan nelayan. Malah yang ada adalah turut menyengsarakan kehidupan nelayan penduduk asli tempatan. Ataukah ini strategi pemerintah untuk menggusur mereka dari perkampungan di tepian sungai sehingga kelak lahan itu dikuasai oleh pengusaha berduit.
Demikianlah nasib nelayan Tebing Tinggi Okura seakan-akan dikondisikan oleh pemerintah untuk tetap miskin selamanya dan tergusur dari kampung halamannya. Semoga saja ini tidak akan pernah terjadi. Siapakah yang dapat membantu mereka untuk tetap eksis selamanya???
Tebing Tinggi Okura maret 2008